Newest Post
Perkembangan Psikologi Remaja
Pada umumnya remaja
didefinisikan sebagai masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa
yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
Setiap tahap
perkembangan manusia biasanya dibarengi dengan berbagai tuntutan
psikologis yang harus dipenuhi, demikian pula pada masa remaja. Sebagian
besar pakar psikologi setuju, bahwa jika berbagai tuntutan psikologis
yang muncul pada tahap perkembangan manusia tidak berhasil dipenuhi,
maka akan muncul dampak yang secara signifikan dapat menghambat
kematangan psikologisnya di tahap-tahap yang lebih lanjut. Berikut ini
merupakan berbagai tuntutan psikologis yang muncul di tahap remaja,
berdasarkan pengalaman penulis selama menjadi pendidik.
Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif
Sebagian besar remaja tidak dapat
menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja
yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu.
Misalnya si Dewi merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka
Dewi akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku
Dewi yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan
orang lain. Mungkin Dewi akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh
temannya sehingga lama-kelamaan Dewi tidak memiliki teman, dan
sebagainya.
Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua
Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan
emosional sering disertai perilaku “pemberontakan” dan melawan keinginan
orang tua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan
dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah , maka remaja akan
mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal
tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar
orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang
senasib dengannya. Jika orang tua tidak menyadari akan pentingnya tugas
perkembangan ini, maka remaja Anda dalam kesulitan besar. Hal yang sama
juga dilakukan remaja terhadap orang-orang ‘yang dianggap sebagai
pengganti orang tua’, guru misalnya.
Remaja mampu bergaul lebih matang dengan kedua jenis kelamin
Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya
menyadari akan pentingnya pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas
perkembangan yang harus dilaluinya adalah mampu bergaul dengan kedua
jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki tahap
perkembangan ini. Ada sebagaian besar remaja yang tetap tidak berani
bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut
menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam perkembangan remaja tersebut.
Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri
Banyak remaja yang belum mengetahui
kemampuannya. Bila remaja ditanya mengenai kelebihan dan kekurangannya
pasti mereka akan lebih cepat menjawab tentang kekurangan yang
dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang dimilikinya. Hal tersebut
menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal kemampuan dirinya
sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini tentu
saja akan menjadi masalah untuk perkembangan selanjutnya (masa dewasa
atau bahkan sampai tua sekalipun).
Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma
Skala nilai dan norma biasanya diperoleh
remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya
terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang
dikaguminya. Dari skala nilai dan norma yang diperolehnya akan membentuk
suatu konsep mengenai harus menjadi seperti siapakah “aku” ?, sehingga
hal tersebut dijadikan pegangan dalam mengendalikan gejolak dorongan
dalam dirinya. Maka penting bagi orang tua dan orang-orang ‘yang
dianggap sebagai pengganti orang tua’ untuk mampu menjadikan diri mereka
sendiri sebagai idola bagi para remaja tersebut.
Selain berbagai tuntutan psikologis perkembangan diri, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:
- Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat
- Emosinya tidak stabil
- Perkembangan Seksual sangat menonjol
- Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
- Terikat erat dengan kelompoknya
Secara teoritis beberapa tokoh psikologi
mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak
tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang
batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan.
Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun
a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:
- Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
- Anak mulai bersikap kritis
b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:
- Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
- Memperhatikan penampilan
- Sikapnya tidak menentu/plin-plan
- Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya:
- Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
- Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria
2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun
Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
- perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
- mulai menyadari akan realitas
- sikapnya mulai jelas tentang hidup
- mulai nampak bakat dan minatnya
Dengan mengetahui berbagai tuntutan
psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan
para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang
harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan
dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya
remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.
Permasalahan yang sering
muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik
tentang baerbagai tuntutan psikologis ini, sehingga perilaku mereka
seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan
mereka. Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang
kontra produktif dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin
mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut. Sebuah PR yang
panjang bagi orang tua dan pendidik, yang menuntut mereka untuk selalu
mengevaluasi sikap yang diambil dalam pendidikan remaja yang
dipercayakan kepada mereka. Dengan demikian, diharapkan para orang tua
dan pendidik dapat memberikan rangsangan dan motivasi yang tepat untuk
mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Secara umum faktor-faktor yang
memengaruhi hasil Wajar dibedakan atas dua kategori, yaitu faktor
internal dan faktor eksternal Kedua faktor tersebut saling memengaruhi
dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas hasil
belajar.
a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
1) Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah
faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.
Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama, keadaan tonus
jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas
belajar seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan
pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebalikrtya,
kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil
belajar yang maksimal. Oleh karena keadaan tonus jasmani sangat
memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan
jasmani. Cara untuk menjaga kesehatan Jasmani antara lain adalah: 1)
menjaga pola makan yang sehat dengan memerhatikan nutrisi yang masuk ke
dalam tubuh, karena kekurangan gizi atau nutrisi akan mengakibatkan
tubuh cepat lelah, lesu, dan mengantuk, sehingga tidak ada gairah untuk
belajar; 2) rajin berolahraga agar tubuh selalu bugat dan sehat; 3)
istirahat yang cukup dan sehat.
Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisiologis.
Selama proses belajar berlangsung, peran fungsi fisiologi pada tubuh
manusia sangat memengaruhi hasil belajar, terutama pancaindra.
Pancaindra yang berfungsi dengan baik akan mempermudah aktivitas belajar
dengan baik pula. Dalam proses belajar, pancaindra merupakan pintu
masuk bagi segala informasi yang diterima dan ditangkap oleh manusia,
sehingga manusia dapat mengenal dunia luar. Pancaindra yang memiliki
peran besar dalam aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh karena
itu, baik guru maupun siswa perlu menjaga pancaindra dengan baik, baik
secara preventif maupun yang,bersifat kuratif, dengan
menyediakan sarana belajar yang memenuhi persyaratan, memeriksakan
kesehatan fungsi mata dan telinga secara periodik, mengonsumsi makanan
yang bergizi, dan lain sebagainya.
2) Faktor psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat.
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat.
- Kecerdasan/inteligensi siswa
Pada umumnya kecerdasan diartikan sebagai
kemampuan psiko-fisik dalam mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri
dengan lingkungan melalui cara yang tepat. Dengan demikian, kecerdasan
bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ
tubuh yang lain. Namun bila dikaitkan dengan kecerdasan, tentunya otak
merupakan organ yang penting dibandingkan organ yang lain, karena fungsi
otak itu sendiri sebagai pengendali tertinggi (executive control) dari
hampir seluruh aktivitas manusia.
Kecerdasan merupakan faktor psikologis
yang paling penting dalam proses belajar siswa, karena itu menenentukan
kualitas belajar siswa. Semakin tinggi tingkat inteligensi seorang
individu, semakin besar peluang individu tersebut meraih sukses dalam
belajar. Sebaliknya, semakin rendah tingkat inteligensi individu,
semakin sulit individu itu mencapai kesuksesan belajar. Oleh karena
itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain, seperti guru, orangtua,
dan lain sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam
mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang
kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru atau guru profesional,
sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasan siswanya.
Pemahaman tentang tingkat kecerdasan
individu dapat diperoleh oleh orangtua dan guru atau pihak-pihak yang
berkepentingan melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Sehingga dapat diketahui anak didik berada pada tingkat kecerdasan yang
mana, amat superior, superior, ratarata, atau mungkin lemah mental.
Informasi tentang taraf kecerdasan seseorang merupakan hal yang sangat
berharga untuk memprediksi kemampuan belajar seseorang. Pemahaman
terhadap tingkat kecerdasan peserta didik akan membantu mengarahkan dan
merencanakan bantuan yang akan diberikan kepada siswa.
- Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang
memengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang
mendorong siswa inginn melakukan kegiatan belajar. Para ahli psikologi
mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang
aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat
(Slavin, 1994). Motivasi juga diartikan sebagai pengaruh
kebutuhan-kebutuhan dan keinginan terhadap intensitas dan arah perilaku
seseorang. Dari sudut sumbernya, motivasi dibagi menjadi dua, yairu
motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah
semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan
dorongan untuk melakukan sesuatu. Seperti seorang siswa yang gemar
membaca, maka ia tidak perlu disuruh-suruh untuk membaca, karena
membaca tidak hanya menjadi aktivitas kesenangannya, tapi bisa jadi
juga telah menjadi kebutuhannya. Dalam proses belajar, motivasi
intrinsik memiliki pengaruh yang lebih efektif, karena motivasi
intrinsik relatif lebih lama dan tidak tergantung pada motivasi dari
luar (ekstrinsik).
Menurut Arden N. Frandsen (Hayinah, 1992), yang termasuk dalam motivasi intrinsik untuk belajar antara lain adalah:
- Dorongan ingin tahu dan ingin menyelediki dunia yang lebih luas;
- Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju;
- Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orangtua, saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebagainya;
- Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
Motivasi ekstrinsik adalah faktor yang
datang dari luar diri individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan
untuk belajar. Seperti pujian, peraturan, tata tertib, reladan guru
orangtua, dan lain sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungan secara
positif akan memengaruhi semangat belajar seseorang menjadi lemah.
- Minat
Secara sederhana, minat (interest) berarti
kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
terhadap sesuatu. Menurut Reber (Syah, 2003), minat bukanlah istilah
yang populer dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap
berbagai faktor internal lainnya, seperti pemusatan perhatian,
keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
Namun lepas dari kepopulerannya, minat
sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh
terhadap aktivitas belajar. Karena jika seseorang tidak memiliki minat
untuk belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar.
Oleh karena itu, dalam konteks belajar di kelas, seorang guru atau
pendidik lainnya perlu membangkitkan minat siswa agar tertarik terhadap
materi pelajaran yang akan dipelajarinya.
Untuk membangkitkan minat belajar siswa tersebut, banyak cara yang bisa digunakan. Antara lain, pertama, dengan
membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak
membosankan, baik dari bentuk buku materi, desain pembelajaran yang
membebaskan siswa untuk mengeksplor apa yang dipelajari, melibatkan
seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, psikomotorik) sehingga
siswa menjadi aktif, maupun performansi guru yang menarik saat mengajar.
Kedua, pemilihan jurusan atau bidang studi. Dalam hal ini,
alangkah baiknya jika jurusan atau bidang studi dipilih sendiri oleh
siswa sesuai dengan minatnya.
- Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu
dapat memengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala
internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi
atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang,
peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif (Syah,
2003). Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang
atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan
sekitarnya. Dan untuk mengan tisipasi munculnya sikap yang negatif dalam
belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional
dan bertanggung jawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan
profesionalitas, seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik
bagi siswanya; berusaha mengembangkan kepribadian sebagai seorang guru
yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya; berusaha untuk
menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga
membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak
menjemukan; meyakinkan siswa bahwa bidang srudi yang dipelajari
bermanfaat bagi diri siswa.
- Bakat
Faktor psikologis lain yang memengaruhi proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan
sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai
keberhasilan pada masa yang akan datang (Syah, 2003). Berkaitan dengan
belajar, Slavin (1994) mendefinisikan bakat sebagai kemampuan umum yang
dimiliki seorang siswa untuk belajar. Dengan demikian, bakat adalah
kemampuan seseorangyang menjadi salah satu komponen yang diperlukan
dalam proses belajar seseorang. Apabila bakat seseorang sesuai dengan
bidang yang sedang dipelajarinya, maka bakat itu akan mendukung proses
belajarnya sehingga kernungkinan besar ia akan berhasil.
Pada dasarnya, setiap orang mempunyai
bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan
kemampuannya masing-masing. Karena itu, bakat juga diartikan sebagai
kemampuan dasar individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa
tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah memiliki
bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap segala informasi yang
berhubungan dengan bakat yang dimilikinya. Misalnya, siswa yang
berbakat di bidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa
lain selain bahasanya sendiri.
b. Faktor faktor eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau
faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi
proses belajar siswa. Dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan bahwa
faktor faktor eksternal yang memengaruhi belajar dapat digolongkan
menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor
lingkungan nonsosial.
1) Lingkungan sosial
- Lingkungan sosial masyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak telantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.
- Lingkungan sosial keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Hubungan antara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
- c. Lingkungan sosial sekolah, seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. maka para pendidik, orangtua, dan guru perlu memerhatikan dan memahami bakat yang dimiliki oleh anaknya atau peserta didiknya, antara lain dengan mendukung, ikut mengembangkan, dan tidak memaksa anak untuk memilih jurusan yang tidak sesuai dengan bakatnya.
2) Lingkungan nonsosial.
Faktor faktor yang termasuk lingkungan nonsosial adalah:
- a. Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat.
- b. Faktor instrumental, yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olahragd dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.
Faktor materi pelajaran (yang diajarkan
ke siswa). Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan
siswa, begitu juga dengan metode mengajar guru, disesuaikan dengan
kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat memberikan
kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru
harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang
dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.
Emosi adalah suatu respons terhadap suatu perangsang yang menyebabkan
perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya
mengandung kemungkinan untuk meletus,yang dapat terjadi baik terhadap
perangsang –perangsang eksternal maupun internal (Soegarda
Poerbakawatja, 1982).
Perbuatan atau perilaku kita sehari – hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti senang atau benci. Perasaan ini selalu menyertai dalam perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif ini kadang kuat, kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samar-samar). Dalam hal ini warna afektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Perasaan – perasaan seperti ini yang disebut emosi (Sarlito, 1982: 59).
Masa remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak senang, dan khawatir kesepian. Pada masa praremaja umumnya terlalu peka dalam menghadapi rangsangan – rangsangan dari luar dan responnya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng tetapi juga cepat senang atau meledak. Emosinya semakin sulit ditebak dan cepat marah dengan cara – cara yang kurang wajar pada periode remaja awal. Kemudian pada periode remaja tengah, mereka semakin meningkatkan tanggung jawab terhadap masalah mereka sendiri. Dan mereka mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunujukkan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa pada periode remaja akhir.
Setiap perkembangan emosi pada masing – masing periode memunculkan sikap dan perilaku yang berbeda – beda yang pada akhirnya akan mengarah pada penemuan jati diri meskipun prosesnya akan panjang.
1. Perubahan Pola Interaksi dengan Orang Tua
Emosi remaja yang sulit ditebak dan terkadang meledak – ledak jika tidak dikontrol maka akan membuat interaksi dengan orang tua menjadi buruk. Apalagi jika orang tua tidak dapat memahami perubahan emosi yang dialami oleh sang anak dan memaksakan kehendak mereka. Anak yang biasanya penurut terhadap semua keinginan orang tua, pada masa remajanya bisa saja merasa jenuh dan pada akhirnya melakukan pemberontakan karena mereka ingin menunjukan pada orang tua bahwa mereka dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasan orang tua.
2. Perubahan Interaksi Dengan Teman Sebaya
Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya yang di sebut geng. Jika ada salah satu anggota geng yang mengalami masalah dengan seseorang di luar geng tersebut biasanya semua anggota geng tersebut akan memusuhi orang itu dengan alasan kesetiakawanan. Tidak jarang jika mereka saling tidak mengontrol emosi maka akan menimbulkan permusuhan antargeng dan memungkinkan terjadinya tawuran. Sisi baiknya, perkembangan emosi yang sudah terarah akan membantu mereka dalam memilih pergaulan dan menempatkan rasa kesetiakawanan pada tempatnya. Remaja akan belajar memahami berbagai permasalahan di sekitarnya dan bagaimana menyikapinya dengan lebih dewasa.
3. Perubahan Pandangan Luar
Pada masa remaja, mereka akan mulai memikirkan bagaimana pandangan luar terhadap dirinya dan bagaimana dunia ini “bekerja”. Mereka mulai mengkritik kebijakan – kebijakan yang diterapkan oleh orang – orang dewasa yang tidak sesuai dengan pandangannya. Sehingga akan terbentuk pola pikir yang akan mendasarinya menemukan jati diri. Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan cara melibatkan remaja ke dalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai – nilai moral.
4. Perubahan Interaksi dengan Sekolah
Emosi yang tidak terkendali bisa membuat remaja jenuh dengan aktivitas sekolahnya. Jika mereka mengalami sedikit saja konflik dengan teman atau guru, mereka kemudian menyikapinya secara berlebihan yang akan berakibat buruk pada prestasi akademiknya. Namun jika mereka sudah bisa memisahkan antara urusan pribadi dan sekolah, maka itu tidak akan menjadi masalah yang besar.
Perkembangan emosional individu sebenarnya merupakan perkembangan yang paling sulit untuk diklasifikasikan. Munculnya emosi seseorang sangat tergantung atau dipengaruhi lingkungan, pengalaman, dan kebudayaan, sehingga untuk mengukur emosi sangatlah sulit.
Proses perkembangan adalah saat anak menyadari permintaan dan syarat – syarat hidup dalam suatu lingkungan. Meskipun masih dalam lingkungan keluarga, batas – batas dalam bentuk disiplin mulai dapat diberikan. Apabila ini terjadi pada dua anak dalam satu keluarga (seayah/seibu) secara individual, perkembangan emosinya akan jelas bisa berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, baik dalam bakat, minat, keadaan jasmani, keadaan sosial, intelejensi, maupun kepribadiannya.
Perkembangan kepribadian dominan terjadi pada remaja dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosinya. Menurut Erikson, tahap itu tertata selama remaja sebagai suatu kepedulian utama terhadap identitas dirinya. Hasil pengamatan lapangan, terdapat ragam yang luar biasa dalam perkembangan fisik dan sosioemosional, khususnya selama masa – masa Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Berdasarkan karya Erikson, James Marcia (1980) mengidentifikasi empat status identitas melalui interview mendalam dengan remaja. Damon (1983) telah mengikhtisarkan empat status itu sebagai berikut.
1. Pengalihan identitas (foreclosure) : individu dalam status pengalihan identitas tidak pernah mengalami krisis identitas. Mereka telah membentuk suatu identitas prematur lebih berdasarkan pilihan orang tua mereka daripada identitas mereka sendiri. Mereka telah membuat komitmen pekerjaan dan ideologi, tetapi komitmen ini lebih mencerminkan suatu peniaian tentang apa yang dapat dilakukan figur orang tua atau otoritas anak itu daripada suatu proses otonom anak dalam penilaian diri. Ini merupakan suatu jenis “identitas semu” yang pada umunya terlalu dipaksakan dan kaku untuk difungsikan sebagai dasar menghadapi krisis hidup di masa depan.
2. Kebingungan identitas (identity diffusion) : individu yang mengalami kebingungan identitas tidak menemukan arah pekerjaan atau komitmen ideologi yang mana pun dan mencapai kemajuan kecil ke arah tujuan – tujuan ini. Mereka kemungkinan telah mengalami krisis identitas, dan apabila benar, mereka tidak dapat mengatasinya.
3. Moratorium : Individu yang berada dalam status moratorium adalh individu yang telah mulai melakukan eksperimen dengan pilihan – pilihan pekerjaan dan ideologi namun belum membuat komitmen pasti terhadap salah satu pilihan. Individu ini langsung berada di tengah – tengah suatu krisis identitas dan sedang mencari pilihan – pilihan hidup pengganti.
4. Pencapaian identitas (identity achievement) : Pencapaian identitas menandakan suatu status konsolidasi identitas. Pada tahap ini individu telah sadar akan dirinya sendiri, membuat keputusan – keputusan tegas tentang pekerjaan dan ideologi. Individu itu yakin bahwa keputusan – keputusan itu dibuat berdasarkan otonomi dan kebebasan serta komitmen internal yang dalam.
Pada remaja akhir (usia 18 sampai 22 tahun), individu pada umumnya telah mengembangkan suatu status pencapaian identitas. Status ini mencerminkan emosional remaja tampaknya bertautan dengan status identitas mereka. Sebagai misal, tingkat kecemasan cenderung paling tinggi bagi remaja yang berada pada tahap moratorium dan paling rendah bagi remaja yang berada pada tahap pengalihan identitas. Percaya diri juga beragam, dengan remaja berada pada tahap pencapaian identitas dan moratorium dilaporkan sebagai tahap di mana tingkat percaya dirinya paling tinggi. Sementara remaja yang berada pada tahap pengalihan identitas dan kebingungan identitas dilaporkan tingkat percaya dirinya paling rendah. Pada umumnya, remaja perlu melakukan eksperimen dan tetap luwes apabila mereka harus berhasil menemukan identitas mereka sendiri. Dengan mencoba cara – cara yang mungkin, kemudian menguji dan memodifikasi cara – cara itu, remaja dapat memetik karakteristik yang paling tepat dan menyisihkan yang lain. Untuk melakukan ini, remaja itu harus memiliki rasa percaya diri untuk bereksperimen dan menyatakan suatu eksperimen selesai, untuk mengubah perilaku, dan meninggalkan karakteristik – karakteristik yang tidak cocok, meskipun jika karakteristik – karakteristik itu didukung oleh orang lain. Ini membantu mendapatkan penerimaan yang stabil dari orang tua, guru, dan teman sebaya yang akan menanggapi secara positif eksperimentasi remaja.
Satu tanda pertama dari remaja awal adalah munculnya reflektivitas, kecenderungan untuk berfikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak sendiri dan mengkaji diri sendiri. Remaja mulai melihat lebih dekat pada diri mereka sendiri dan menetapkan diri mereka sendiri berbeda. Mereka mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan rasakan dan bagaimana mereka berperilaku. Menggunakan keterampilan – keterampilan intelektual yang sedang berkembang itulah yang memungkinkan mereka mempertimbangkan kemungkinan – kemungkinan. Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. Mereka mengkritik sifat-sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan yang lain dan mencoba untuk mengubah cara mereka berperilaku. Remaja seringkali juga merenungkan apakah orang lain melihat dan berfikir tentang dunia dengan cara yang sama seperti yang mereka pikirkan. Mereka menjadi lebih sadar atas keterpisahan mereka dari orang lain dan atas keunikan mereka. Mereka belajar bahwa orang lain tidak dapat sepenuhnya mengetahui apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Isu tentang siapa dan apa sebenarnya dirinya merupakan perkembangan kepribadian yang dominan pada remaja.
3. Kesimpulan
Perkembangan emosi remaja sangat berpengaruh terhadap perubahan – perubahan interaksi dengan orang tua, teman sebaya, pandangan terhadap dunia luar, dan interaksi dengan sekolah. Jika remaja dapat mengontrol emosinya maka akan terbentuk kebiasaan dan sikap mereka dalam menghadapi berbagai hal yang akhirnya akan menjadi jati diri mereka. James Marcia (1980) mengidentifikasi empat status identitas melalui interview mendalam dengan remaja. Damon (1983) telah mengikhtisarkan empat status itu menjadi . Pengalihan identitas (foreclosure), kebingungan identitas (identity diffusion), moratorium, dan pencapaian identitas (identity achievement).
Perbuatan atau perilaku kita sehari – hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti senang atau benci. Perasaan ini selalu menyertai dalam perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif ini kadang kuat, kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samar-samar). Dalam hal ini warna afektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Perasaan – perasaan seperti ini yang disebut emosi (Sarlito, 1982: 59).
Masa remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak senang, dan khawatir kesepian. Pada masa praremaja umumnya terlalu peka dalam menghadapi rangsangan – rangsangan dari luar dan responnya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng tetapi juga cepat senang atau meledak. Emosinya semakin sulit ditebak dan cepat marah dengan cara – cara yang kurang wajar pada periode remaja awal. Kemudian pada periode remaja tengah, mereka semakin meningkatkan tanggung jawab terhadap masalah mereka sendiri. Dan mereka mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunujukkan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa pada periode remaja akhir.
Setiap perkembangan emosi pada masing – masing periode memunculkan sikap dan perilaku yang berbeda – beda yang pada akhirnya akan mengarah pada penemuan jati diri meskipun prosesnya akan panjang.
1. Perubahan Pola Interaksi dengan Orang Tua
Emosi remaja yang sulit ditebak dan terkadang meledak – ledak jika tidak dikontrol maka akan membuat interaksi dengan orang tua menjadi buruk. Apalagi jika orang tua tidak dapat memahami perubahan emosi yang dialami oleh sang anak dan memaksakan kehendak mereka. Anak yang biasanya penurut terhadap semua keinginan orang tua, pada masa remajanya bisa saja merasa jenuh dan pada akhirnya melakukan pemberontakan karena mereka ingin menunjukan pada orang tua bahwa mereka dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasan orang tua.
2. Perubahan Interaksi Dengan Teman Sebaya
Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya yang di sebut geng. Jika ada salah satu anggota geng yang mengalami masalah dengan seseorang di luar geng tersebut biasanya semua anggota geng tersebut akan memusuhi orang itu dengan alasan kesetiakawanan. Tidak jarang jika mereka saling tidak mengontrol emosi maka akan menimbulkan permusuhan antargeng dan memungkinkan terjadinya tawuran. Sisi baiknya, perkembangan emosi yang sudah terarah akan membantu mereka dalam memilih pergaulan dan menempatkan rasa kesetiakawanan pada tempatnya. Remaja akan belajar memahami berbagai permasalahan di sekitarnya dan bagaimana menyikapinya dengan lebih dewasa.
3. Perubahan Pandangan Luar
Pada masa remaja, mereka akan mulai memikirkan bagaimana pandangan luar terhadap dirinya dan bagaimana dunia ini “bekerja”. Mereka mulai mengkritik kebijakan – kebijakan yang diterapkan oleh orang – orang dewasa yang tidak sesuai dengan pandangannya. Sehingga akan terbentuk pola pikir yang akan mendasarinya menemukan jati diri. Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak bertanggung jawab, yaitu dengan cara melibatkan remaja ke dalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar nilai – nilai moral.
4. Perubahan Interaksi dengan Sekolah
Emosi yang tidak terkendali bisa membuat remaja jenuh dengan aktivitas sekolahnya. Jika mereka mengalami sedikit saja konflik dengan teman atau guru, mereka kemudian menyikapinya secara berlebihan yang akan berakibat buruk pada prestasi akademiknya. Namun jika mereka sudah bisa memisahkan antara urusan pribadi dan sekolah, maka itu tidak akan menjadi masalah yang besar.
Perkembangan emosional individu sebenarnya merupakan perkembangan yang paling sulit untuk diklasifikasikan. Munculnya emosi seseorang sangat tergantung atau dipengaruhi lingkungan, pengalaman, dan kebudayaan, sehingga untuk mengukur emosi sangatlah sulit.
Proses perkembangan adalah saat anak menyadari permintaan dan syarat – syarat hidup dalam suatu lingkungan. Meskipun masih dalam lingkungan keluarga, batas – batas dalam bentuk disiplin mulai dapat diberikan. Apabila ini terjadi pada dua anak dalam satu keluarga (seayah/seibu) secara individual, perkembangan emosinya akan jelas bisa berbeda satu sama lain dalam berbagai hal, baik dalam bakat, minat, keadaan jasmani, keadaan sosial, intelejensi, maupun kepribadiannya.
Perkembangan kepribadian dominan terjadi pada remaja dan sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosinya. Menurut Erikson, tahap itu tertata selama remaja sebagai suatu kepedulian utama terhadap identitas dirinya. Hasil pengamatan lapangan, terdapat ragam yang luar biasa dalam perkembangan fisik dan sosioemosional, khususnya selama masa – masa Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Berdasarkan karya Erikson, James Marcia (1980) mengidentifikasi empat status identitas melalui interview mendalam dengan remaja. Damon (1983) telah mengikhtisarkan empat status itu sebagai berikut.
1. Pengalihan identitas (foreclosure) : individu dalam status pengalihan identitas tidak pernah mengalami krisis identitas. Mereka telah membentuk suatu identitas prematur lebih berdasarkan pilihan orang tua mereka daripada identitas mereka sendiri. Mereka telah membuat komitmen pekerjaan dan ideologi, tetapi komitmen ini lebih mencerminkan suatu peniaian tentang apa yang dapat dilakukan figur orang tua atau otoritas anak itu daripada suatu proses otonom anak dalam penilaian diri. Ini merupakan suatu jenis “identitas semu” yang pada umunya terlalu dipaksakan dan kaku untuk difungsikan sebagai dasar menghadapi krisis hidup di masa depan.
2. Kebingungan identitas (identity diffusion) : individu yang mengalami kebingungan identitas tidak menemukan arah pekerjaan atau komitmen ideologi yang mana pun dan mencapai kemajuan kecil ke arah tujuan – tujuan ini. Mereka kemungkinan telah mengalami krisis identitas, dan apabila benar, mereka tidak dapat mengatasinya.
3. Moratorium : Individu yang berada dalam status moratorium adalh individu yang telah mulai melakukan eksperimen dengan pilihan – pilihan pekerjaan dan ideologi namun belum membuat komitmen pasti terhadap salah satu pilihan. Individu ini langsung berada di tengah – tengah suatu krisis identitas dan sedang mencari pilihan – pilihan hidup pengganti.
4. Pencapaian identitas (identity achievement) : Pencapaian identitas menandakan suatu status konsolidasi identitas. Pada tahap ini individu telah sadar akan dirinya sendiri, membuat keputusan – keputusan tegas tentang pekerjaan dan ideologi. Individu itu yakin bahwa keputusan – keputusan itu dibuat berdasarkan otonomi dan kebebasan serta komitmen internal yang dalam.
Pada remaja akhir (usia 18 sampai 22 tahun), individu pada umumnya telah mengembangkan suatu status pencapaian identitas. Status ini mencerminkan emosional remaja tampaknya bertautan dengan status identitas mereka. Sebagai misal, tingkat kecemasan cenderung paling tinggi bagi remaja yang berada pada tahap moratorium dan paling rendah bagi remaja yang berada pada tahap pengalihan identitas. Percaya diri juga beragam, dengan remaja berada pada tahap pencapaian identitas dan moratorium dilaporkan sebagai tahap di mana tingkat percaya dirinya paling tinggi. Sementara remaja yang berada pada tahap pengalihan identitas dan kebingungan identitas dilaporkan tingkat percaya dirinya paling rendah. Pada umumnya, remaja perlu melakukan eksperimen dan tetap luwes apabila mereka harus berhasil menemukan identitas mereka sendiri. Dengan mencoba cara – cara yang mungkin, kemudian menguji dan memodifikasi cara – cara itu, remaja dapat memetik karakteristik yang paling tepat dan menyisihkan yang lain. Untuk melakukan ini, remaja itu harus memiliki rasa percaya diri untuk bereksperimen dan menyatakan suatu eksperimen selesai, untuk mengubah perilaku, dan meninggalkan karakteristik – karakteristik yang tidak cocok, meskipun jika karakteristik – karakteristik itu didukung oleh orang lain. Ini membantu mendapatkan penerimaan yang stabil dari orang tua, guru, dan teman sebaya yang akan menanggapi secara positif eksperimentasi remaja.
Satu tanda pertama dari remaja awal adalah munculnya reflektivitas, kecenderungan untuk berfikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak sendiri dan mengkaji diri sendiri. Remaja mulai melihat lebih dekat pada diri mereka sendiri dan menetapkan diri mereka sendiri berbeda. Mereka mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan rasakan dan bagaimana mereka berperilaku. Menggunakan keterampilan – keterampilan intelektual yang sedang berkembang itulah yang memungkinkan mereka mempertimbangkan kemungkinan – kemungkinan. Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. Mereka mengkritik sifat-sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan yang lain dan mencoba untuk mengubah cara mereka berperilaku. Remaja seringkali juga merenungkan apakah orang lain melihat dan berfikir tentang dunia dengan cara yang sama seperti yang mereka pikirkan. Mereka menjadi lebih sadar atas keterpisahan mereka dari orang lain dan atas keunikan mereka. Mereka belajar bahwa orang lain tidak dapat sepenuhnya mengetahui apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Isu tentang siapa dan apa sebenarnya dirinya merupakan perkembangan kepribadian yang dominan pada remaja.
3. Kesimpulan
Perkembangan emosi remaja sangat berpengaruh terhadap perubahan – perubahan interaksi dengan orang tua, teman sebaya, pandangan terhadap dunia luar, dan interaksi dengan sekolah. Jika remaja dapat mengontrol emosinya maka akan terbentuk kebiasaan dan sikap mereka dalam menghadapi berbagai hal yang akhirnya akan menjadi jati diri mereka. James Marcia (1980) mengidentifikasi empat status identitas melalui interview mendalam dengan remaja. Damon (1983) telah mengikhtisarkan empat status itu menjadi . Pengalihan identitas (foreclosure), kebingungan identitas (identity diffusion), moratorium, dan pencapaian identitas (identity achievement).
Merencanakan Karir di Masa Depan
A. Arti dan Pentingnya Perencanaan KarirMemperoleh karir atau pekerjaan yang layak dan sesuai harapan, merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia yang sehat, di mana pun dan kapan pun mereka berada. Betapa orang akan merasa sangat susah dan gelisah jika tidak memiliki pekerjaan yang jelas, apalagi kalau sampai menjadi penganggur. Demikian pula banyak orang yang mengalami stres dan frustrasi dalam hidup ini karena masalah pekerjaan.
Menggapai karir yang gemilang tidak didapatkan hanya dengan melewati proses semalam. Ia membutuhkan kerja keras, aktualisasi diri yang mendalam, dan kemauan untuk terus belajar. Seorang professional yang berhasil dalam karirnya adalah ia yang telah merintisnya sejak muda. Para praktisi SDM mengatakan, ”Orang yang berhasil pada umumnya akan melakukan analisa serta mengetahui apa yang menjadi tujuan karirnya, apa rencana serta tindakan yang diambil untuk mencapai karir yang diharapkan”.
Pengertian Karir
Pekerjaan tidak serta merta merupakan karier. Kata pekerjaan (work, job, employment) menunjuk pada setiap kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa, sedangkan kata karier (career) lebih menunjuk pada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya hidupnya.Pada dasarnya yang dimaksud dengan karir adalah suatu pilihan profesi atau pekerjaan yang menjadi tujuan bagi seorang individu. Karir juga dapat diartikan sebagai perkembangan dari perjalanan kehidupan kerja seseorang yang digeluti secara serius dan ditingkatkan semaksimal mungkin
Karir tertiggi (puncak karir) tidak dapat dicapai secara instant, melainkan harus dengan perencanaan matang. Cara yang paling efektif untuk meniti karir adalah dengan menggali bakat atau potensi sedini mungkin. Masa remaja merupakan saat yang paling tepat untuk meniti karir yakni dengan mengenal bakat dan minat yang dimilikinya. Sehingga nantinya seseorang tersebut tidak hanya akan berhasil meniti karir tersebut dengan sempurna, melainkan juga menggapainya dengan optimal.
Apakah perencanaan karir itu?
Perencanaan karir adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara terarah dan terfokus demga berdasar pada potensi (minat, bakat, keyakinan, nilai-nilai) yang kita miliki untuk mendapatkan sumber penghasilan yang memungkinkan kita untuk maju dan berkembang baik secara kualitas (hidup) maupun kuantitas (kesejahteraan).
Sesunguhnya dalam perencanaan karir ini yang ditekankan bukan hanya pada pekerjaan apa yang nantinya kita peroleh, tetapi pada persiapan-persiapan yang kita lakukan. Salah satun persiapan yang sangat penting adalah memilih pendidikan dan keterampilan yang akan dikembangkan. Misalnya kalau saat ini kita berada di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) maka kita nantinya harus bisa menentukan kira-kira jurusan apa yang akan dipilih IPS, Bahasa, atau IPA.
Oleh karena itu poin-poin penting dalam Perencanaan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Menyadarkan diri sendiri terhadap peluang-peluang, kendala-kendala, pilihan-pilihan, dan konsekuensi yang akan dihadapi.
2. Mengidentifikasi tujuan-tujuan hidup terutama yang berkaitan dengan karir,
3. Penyusunan program pendidikan, keterampilan dan pengalaman-pengalaman yang bersifat pengembangan dalam meraih tujuan karir.
B. Langkah-Langkah Dalam Merencanakan Karir
1. Mengembangkan rencana karir. Pikirkanlah mengenai apa yang akan kita lakukan dan langkah-langkah strategis apa yang dibutuhkan untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan.
2. Tinjaulah bakat atau kemampuan serta minat yang kita miliki. Pikirkan secara serius dan mendalam hal-hal yang kita sukai, mampu kita kerjakan dengan baik, serta nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya.
3. Cobalah mencari tahu jenis-jenis karir atau pekerjaan yang mendekati dengan diri kita, yaitu sesuai bakat serta minat yang kita miliki, latar belakang pendidikan, kondisi kerja serta lingkungan yang kita harapkan, serta hal-hal lain yang akan memberikan kejelasan arah dan fokus karir/pekerjaan kita.
4. Selanjutnya, bandingkanlah keterampilan dan minat yang kita miliki dengan jenis karir atau pekerjaan yang akan kita pilih. Jadi karir atau pekerjaan yang paling sesuai dan dekat dengan diri kita sangat mungkin menjadi karir atau pekerjaan kita di masa depan.
5. Kembangkanlah tujuan karir/ pekerjaan yang kita pilih. Hal ini akan menjadi panduan yang sangat penting bagi kita untuk menyusun langkah-langkah strategis selanjutnya.
6. Ikutilah pendidikan atau pelatihan yang mendekatkan kita dengan tujuan karir atau pekerjaan yang telah kita buat.
7. Hal penting yang tidak boleh dilewatkan adalah masalah keuangan. Kita mungkin akan berfikir mengenai sumber-sumber dan besarnya uang yang kita butuhkan untuk mewujudkan karir kita.
8. Cobalah minta nasehat dari beberapa sumber yang anda yakini dapat membantu anda memberikan penjelasan dan arahan megenai karir/pekerjaan pilihan anda.
C. Rumus Dalam Memilih Karir
Richard leider, seorang konsultan karir dari Amerika Serikat, memiliki rumus moderen yang dapat mengkalkulasikan bagaimana kita dapat mewujudkan rencana karir di masa depan degan eektif dan gemilang. Rumus yang dimilikinya adalah sebagai berikut.
Karier = T + 2P + E + V
T : Talent / Bakat
2P : Passion dan Purpose
E : Environment
V : Vision
T yang berarti talent atau bakat.
Untuk mengetahui arah karir dan profesi yang cocok untuk kita jalani dimasa depan, cobalah mendeteksi apa saja kelebihan dan kelemahan yang kita miliki.
2P yaitu Passion dan Purpose, atau keinginan dan tujuan.
Maksudnya, dalam meilih sebuah karir, diperlukan adanya gairan atau keinginan yang kuat untuk menggapai karir tersebut dengan maksimal. Selain itu, dibutuhkan pula tujuan dan arah yang jelas, agar pencapaian karir dimasa depan tidak salah arah. Kedua elemen ini membutuhkan kerja keras dan pengenalan diri yang mendalam agar tujuan karir yang akan dicapai dapat diarahkan dengan benar.
E atau Environment (lingkungan).
Masa remaja merupakan fase dimana kita sangat membutuhkan lingkungan sekitar untuk dapat mengembangkan kepribadian dan emosi. Lingkungan sekitar kita dapat berupa lingkungan keluarga, sekolah, atau tempat bermain. Dalam lingkungan sekitar, seseorang dapat mengasah bakat dan minatnya sedemikian rupa sehingga dapat menggapai karir yang direncanakan. Lingkungan sekitar menjadi tempat belajar dan aktualisasi diri. Oleh karena itu, pilihlah selalu lingkungan yang positif, sehingga kita tidak akan terjerumus kedalam hal-hal yang justru akan dapat menghambat karir kita dimasa depan.
V atau Vision yang berarti pandangan (visi).
Leider melihat bahwa dengan menerapkan pola visioning atau memandang jauh ke masa depan, kita akan dapat mengetahui bentuk-bentuk karir yang akan dicapai. Untuk menciptakan sebuah visi yang baik, langkah pertama adalah menggali potensi diri dan membuat perencanaan bagaimana memanfaatkan potensi tersebut untuk meraih karir yang dicita-citakan.
Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa.
Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
Dilihat dari bahasa inggris "teenager", remaja artinya yakni manusia berusia belasan tahun.Dimana usia tersebut merupakan perkembangan untuk menjadi dewasa. Oleh sebab itu orang tua dan pendidik sebagai bagian masyarakat yang lebih berpengalaman memiliki peranan penting dalam membantu perkembangan remaja menuju kedewasaan.[rujukan?] Remaja juga berasal dari kata latin "adolensence" yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja memiliki tempat di antara anak-anak dan orang tua karena sudah tidak termasuk golongan anak tetapi belum juga berada dalam golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek / fungsi untuk memasuki masa dewasa.Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah: Masa peralihan di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun.[rujukan?]
Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu[rujukan?]
Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
Definisi
Menurut psikologi, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga.[1]Dilihat dari bahasa inggris "teenager", remaja artinya yakni manusia berusia belasan tahun.Dimana usia tersebut merupakan perkembangan untuk menjadi dewasa. Oleh sebab itu orang tua dan pendidik sebagai bagian masyarakat yang lebih berpengalaman memiliki peranan penting dalam membantu perkembangan remaja menuju kedewasaan.[rujukan?] Remaja juga berasal dari kata latin "adolensence" yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja memiliki tempat di antara anak-anak dan orang tua karena sudah tidak termasuk golongan anak tetapi belum juga berada dalam golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek / fungsi untuk memasuki masa dewasa.Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah: Masa peralihan di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun.[rujukan?]
Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu[rujukan?]
- 12 – 15 tahun
- masa remaja awal, 15 – 18 tahun
- masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun
- masa remaja akhir.
Ekonomi Indonesia
Indonesia
merupakan salah satu ekonomi yang cukup stabil untuk investasi dan
berbisnis.Setelah diterpa krisis ekonomi pada 1998, perekonomian
Indonesia perlahan menunjukkan peningkatan.Tabel 1 menunjukkan Produk
Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada periode 2004-2009 dalam harga
konstan. Pertumbuhan ekonomi yang pada 1999 amat rendah, yaitu 0,85%,
perlahan merangkak naik sampai 6,28% di tahun 2007 namun turun kembali
menjadi 4,5% pada tahun 2009 karena adanya krisis finansial global yang
dimulai akhir 2008. Akan tetapi, dengan semakin baiknya pondasi ekonomi
dan keuangan di Indonesia, krisis tersebut tidak menimbulkan dampak
negatif yang berkepanjangan sebagaimana yang terjadi kepada
Negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
Indikator Makro ekonomi Indonesia 2004-2009
Â|
Indikator
|
2004
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
2009
|
|
Pertumbuhan Ekonomi (%)
|
5,03
|
5,69
|
5,5
|
6,28
|
6,06
|
4,5
|
|
Inflasi (%)
|
6,4
|
17,11
|
6,6
|
6,59
|
11,39
|
2,8
|
|
NIlai ekspor non migas (ribuan USD)
|
54.303.601
|
66.010.428
|
80.091.764
|
92.598.083
|
107.156.801
|
4.3991.772*
|
|
FDI (juta USD)
|
1.896
|
8.336
|
4.914
|
6.928
|
n.a.
|
4.877
|
|
Rupiah/USD
|
9.290
|
9.830
|
9.020
|
9.419
|
10.950
|
10.87
|
*s.d. Juli 2009
Sumber: BPS (2010), Bank Indonesia (2010), diolah.
Stabilitas ekonomi di Indonesia juga senantiasa berpengaruh terhadap sektor perdagangan.Nilai
tukar yang relatif stabil dan lingkungan bisnis yang kondusif menjadi
pendukung bagi kegiatan ekspor impor Indonesia. Dalam periode 2005-2009
neraca perdagangan total Indonesia menunjukkan angka positif.
Sebagian
besar keberhasilan ekonomi Indonesia adalah berkat pengelolaan fiskal
atau keuangan negara yang baik, dengan fokus pada penurunan beban
hutang. Rasio hutang Indonesia terhadap PDB menurun terus dari 83% di
tahun 2001 hingga 29% pada akhir tahun 2009; ini merupakan angka
terendah di antara negara ASEAN, kecuali Singapura yang tidak memiliki
hutang pemerintah. Menurut Standard & Poor, Indonesia menduduki
peringkat pertama untuk pengelolaan neraca fiskal terbaik di antara
negara-negara di wilayah Asia-Pasifik.Dilihat dari perekonomian yang
stabil dan upaya reformasi yang berkelanjutan, maka Indonesia merupakan
sebuah kekuatan besar yang sedang berkembang di Asia dan menjadi salah
satu tujuan investasi yang menjanjikan.
Â
JENIS-JENIS TANAH
Interaksi
antara faktor-faktor pembentuk tanah akan menghasilkan tanah dengan sifat-sifat
yang berbeda. Berdasarkan pada faktor pembentuk dan sifat tanah inilah,
beberapa ahli mengklasifikasikan tanah dengan klasifikasi yang berbeda.
Tingkat kategori yang sudah banyak dikembangkan dalam survei dan pemetaan tanah di Indonesia, yaitu tingkat kategori jenis (great soil group). Klasifikasi jenis-jenis tanah pada tingkat tersebut sering digunakan untuk mengelompokkan tanah di Indonesia
Tingkat kategori yang sudah banyak dikembangkan dalam survei dan pemetaan tanah di Indonesia, yaitu tingkat kategori jenis (great soil group). Klasifikasi jenis-jenis tanah pada tingkat tersebut sering digunakan untuk mengelompokkan tanah di Indonesia
•
Tanah Organosol atau Tanah Gambut
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk organik dari hutan rawa,
mempunyai ciri warna cokelat hingga kehitaman, tekstur debulempung,
tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat sampai dengan agak lekat, dan kandungan unsur hara rendah. Tanah ini terbentuk karena adanya proses pembusukan dari sisa-sisa tumbuhan rawa. Banyak terdapat di rawa Sumatra, Kalimantan, dan Papua, kurang baik untuk pertanian maupun perkebunan karena derajat keasaman tinggi.
• Tanah Aluvial
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan. Bahannya berasal dari material halus yang diendapkan oleh aliran sungai. Oleh karena itu, tanah jenis ini banyak terdapat di daerah datar sepanjang aliran sungai
• Tanah Regosol
Tanah ini merupakan endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar. Penyebaran terutama pada daerah lereng gunung api. Tanah ini banyak terdapat di daerah Sumatra bagian timur dan barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
• Tanah Litosol
Tanah litosol merupakan jenis tanah berbatu-batu dengan lapisan tanah yang tidak begitu tebal. Bahannya berasal dari jenis batuan beku yang belum mengalami proses pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini banyak ditemukan di lereng gunung dan pegunungan di seluruh Indonesia.
• Tanah Latosol
Latosol tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 mm/tahun, dan ketinggian tempat berkisar 300–1.000 meter. Tanah ini terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.
• Tanah Grumusol
Jenis ini berasal dari batu kapur, batuan lempung, tersebar di daerah iklim subhumid atau subarid, dan curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun.
• Tanah Podsolik
Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih 2.500 mm/ tahun. Tekstur lempung hingga berpasir, kesuburan rendah hingga sedang, warna merah, dan kering.
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk organik dari hutan rawa,
mempunyai ciri warna cokelat hingga kehitaman, tekstur debulempung,
tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat sampai dengan agak lekat, dan kandungan unsur hara rendah. Tanah ini terbentuk karena adanya proses pembusukan dari sisa-sisa tumbuhan rawa. Banyak terdapat di rawa Sumatra, Kalimantan, dan Papua, kurang baik untuk pertanian maupun perkebunan karena derajat keasaman tinggi.
• Tanah Aluvial
Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan. Bahannya berasal dari material halus yang diendapkan oleh aliran sungai. Oleh karena itu, tanah jenis ini banyak terdapat di daerah datar sepanjang aliran sungai
• Tanah Regosol
Tanah ini merupakan endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar. Penyebaran terutama pada daerah lereng gunung api. Tanah ini banyak terdapat di daerah Sumatra bagian timur dan barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
• Tanah Litosol
Tanah litosol merupakan jenis tanah berbatu-batu dengan lapisan tanah yang tidak begitu tebal. Bahannya berasal dari jenis batuan beku yang belum mengalami proses pelapukan secara sempurna. Jenis tanah ini banyak ditemukan di lereng gunung dan pegunungan di seluruh Indonesia.
• Tanah Latosol
Latosol tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 mm/tahun, dan ketinggian tempat berkisar 300–1.000 meter. Tanah ini terbentuk dari batuan gunung api kemudian mengalami proses pelapukan lanjut.
• Tanah Grumusol
Jenis ini berasal dari batu kapur, batuan lempung, tersebar di daerah iklim subhumid atau subarid, dan curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun.
• Tanah Podsolik
Tanah ini berasal dari batuan pasir kuarsa, tersebar di daerah beriklim basah tanpa bulan kering, curah hujan lebih 2.500 mm/ tahun. Tekstur lempung hingga berpasir, kesuburan rendah hingga sedang, warna merah, dan kering.
• Tanah Podsol
Jenis tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Penyebaran di daerah beriklim basah, topografi pegunungan, misalnya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Papua Barat. Kesuburan tanah rendah
• Tanah Andosol
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk abu vulkan. Penyebaran di daerah beriklim sedang dengan curah hujan di atas 2.500 mm/ tahun tanpa bulan kering. Umumnya dijumpai di daerah lereng atas kerucut vulkan pada ketinggian di atas 800 meter. Warna tanah jenis ini umumnya cokelat, abu-abu hingga hitam.
• Tanah Mediteran Merah Kuning
Tanah jenis ini berasal dari batuan kapur keras (limestone). Penyebaran di daerah beriklim subhumid, topografi karst dan lereng vulkan dengan ketinggian di bawah 400 m. Warna tanah cokelat hingga merah. Khusus tanah mediteran merah kuning di daerah topografi karst disebut ”Terra Rossa”.
• Hidromorf Kelabu
Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal yaitu topografi yang berupa dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air, dan warna kelabu hingga kekuningan.
Proses Pembentukan Tanah
Proses pembentukan tanah diawali dari pelapukan batuan, baik pelapukan fisik maupun pelapukan kimia. Dari proses pelapukan ini, batuan akan menjadi lunak dan berubah komposisinya. Pada tahap ini batuan yang lapuk belum dikatakan sebagai tanah, tetapi sebagai bahan tanah (regolith) karena masih menunjukkan struktur batuan induk.
Proses pelapukan terus berlangsung hingga akhirnya bahan induk tanah berubah menjadi tanah. Nah, proses pelapukan ini menjadi awal terbentuknya tanah. Sehingga faktor yang mendorong pelapukan juga berperan dalam pembentukan tanah.
Curah hujan dan sinar matahari berperan penting dalam proses pelapukan fisik, kedua faktor tersebut merupakan komponen iklim. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor pembentuk tanah adalah iklim. Ada beberapa faktor lain yang memengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu organisme, bahan induk, topografi, dan waktu.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan daratan yang luas dengan jenis tanah yang berbeda-beda. Berikut ini adalah macam-macam / jenis-jenis tanah yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Tanah Humus
Tanah humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.
2. Tanah Pasir
Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.
3. Tanah Alluvial / Tanah Endapan
Tanah aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.
4. Tanah Podzolit
Tanah podzolit adalah tanah subur yang umumnya berada di pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu rendah / dingin.
5. Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi
Tanah vulkanis adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi.
6. Tanah Laterit
Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan Lampung.
7. Tanah Mediteran / Tanah Kapur
Tanah mediteran adalah tanah sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh : Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
8. Tanah Gambut / Tanah Organosol
Tanah organosol adalah jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : rawa Kalimantan, Papua dan Sumatera.
Jenis tanah ini berasal dari batuan induk pasir. Penyebaran di daerah beriklim basah, topografi pegunungan, misalnya di daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara, dan Papua Barat. Kesuburan tanah rendah
• Tanah Andosol
Tanah jenis ini berasal dari bahan induk abu vulkan. Penyebaran di daerah beriklim sedang dengan curah hujan di atas 2.500 mm/ tahun tanpa bulan kering. Umumnya dijumpai di daerah lereng atas kerucut vulkan pada ketinggian di atas 800 meter. Warna tanah jenis ini umumnya cokelat, abu-abu hingga hitam.
• Tanah Mediteran Merah Kuning
Tanah jenis ini berasal dari batuan kapur keras (limestone). Penyebaran di daerah beriklim subhumid, topografi karst dan lereng vulkan dengan ketinggian di bawah 400 m. Warna tanah cokelat hingga merah. Khusus tanah mediteran merah kuning di daerah topografi karst disebut ”Terra Rossa”.
• Hidromorf Kelabu
Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal yaitu topografi yang berupa dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air, dan warna kelabu hingga kekuningan.
Proses Pembentukan Tanah
Proses pembentukan tanah diawali dari pelapukan batuan, baik pelapukan fisik maupun pelapukan kimia. Dari proses pelapukan ini, batuan akan menjadi lunak dan berubah komposisinya. Pada tahap ini batuan yang lapuk belum dikatakan sebagai tanah, tetapi sebagai bahan tanah (regolith) karena masih menunjukkan struktur batuan induk.
Proses pelapukan terus berlangsung hingga akhirnya bahan induk tanah berubah menjadi tanah. Nah, proses pelapukan ini menjadi awal terbentuknya tanah. Sehingga faktor yang mendorong pelapukan juga berperan dalam pembentukan tanah.
Curah hujan dan sinar matahari berperan penting dalam proses pelapukan fisik, kedua faktor tersebut merupakan komponen iklim. Sehingga dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor pembentuk tanah adalah iklim. Ada beberapa faktor lain yang memengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu organisme, bahan induk, topografi, dan waktu.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan daratan yang luas dengan jenis tanah yang berbeda-beda. Berikut ini adalah macam-macam / jenis-jenis tanah yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Tanah Humus
Tanah humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon di hutan hujan tropis yang lebat.
2. Tanah Pasir
Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.
3. Tanah Alluvial / Tanah Endapan
Tanah aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.
4. Tanah Podzolit
Tanah podzolit adalah tanah subur yang umumnya berada di pegunungan dengan curah hujan yang tinggi dan bersuhu rendah / dingin.
5. Tanah Vulkanik / Tanah Gunung Berapi
Tanah vulkanis adalah tanah yang terbentuk dari lapukan materi letusan gunung berapi yang subur mengandung zat hara yang tinggi. Jenis tanah vulkanik dapat dijumpai di sekitar lereng gunung berapi.
6. Tanah Laterit
Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Contoh : Kalimantan Barat dan Lampung.
7. Tanah Mediteran / Tanah Kapur
Tanah mediteran adalah tanah sifatnya tidak subur yang terbentuk dari pelapukan batuan yang kapur. Contoh : Nusa Tenggara, Maluku, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
8. Tanah Gambut / Tanah Organosol
Tanah organosol adalah jenis tanah yang kurang subur untuk bercocok tanam yang merupakan hasil bentukan pelapukan tumbuhan rawa. Contoh : rawa Kalimantan, Papua dan Sumatera.